SMA Berasrama
Syofyan Kudan [Harian Singgalang Online]
Menarik program pembangunan SMA berasramapertama di Sumatra Barat yang ditempatkan di Padang Panjang.
Pembangunan SMA Berasrama ini telah dilakukan sejak 2008, dengan biaya Rp17 miliar, kemudian mulai operasi Juli 2011. Sedangkan SMA yang sama sedang dibangun di Kabupaten Solok yang menurut rencana operasionalnya 2012.
Demikian berita Singgalang, 12 April 2011 di halaman A-8 dengan judul : Berlokasi di Padang Panjang, SMA Berasrama Sumbar Mulai 2011.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Sumatra Barat Drs. Burhasman Bur menyampaikan hal itu dalam jumpa pers. Kini, Burhasman telah menjadi Kepala Dinas Pariwisata.
Membaca uraian program operasional SMA Berasrama tersebut oleh Burhasman Bur, tidak tergambar sistem pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM) dengan tingkat disiplin yang tinggi.
Penulis khawatir, pelaksanaan SMA tipe ini akan menjadi sia-sia saja, karena setelah menghasilkan tamatan, ternyata siswanya jauh dari harapan. Sebab, penulis tidak melihat sekolah ini mempunyai visi dan misi seperti apa?
Apakah hanya untuk melaksanakan sekolah bertaraf internasional dengan membanggakan keterampilan siswa berbahasa Inggeris atau bahasa lain saja?
Dalam jumpa pers, Burhasman menyampaikan syarat seleksi kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha, hingga seleksi siswa yang direncanakan hanya 32 orang perlokal. Nampaknya, hanya seperti SMA biasa saja, hanya kelebihannya ada asrama siswa. Visi dan misi SMA ini tidak jelas, mau dijadikan apa siswanya nanti.
Di Sumbar, banyak muncul sekolah dengan istilah membingungkan masyarakat dan orangtua siswa. Ada sekolah rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI), sekolah berstandar internasional (SBI).
Asumsi internasional, kualitas sekolah yang sama antara di Padang Panjang dengan di Inggris atau Amerika Serikat, atau Jepang dan lainnya.
Jika tidak, sebaiknya SMA biasa sajalah namanya dengan plus Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Agar jangan membingungkan masyarakat.
Jika memang SMA Berasrama ini menjadi sekolah unggul di Sumbar, Dinas Dikpora bersama Disdik Padang Panjang perlu studi banding ke SMA Taruna Magelang di Jawa Tengah.
Sekolah itu boleh disamakan dengan sekolah bertaraf internasional, tapi namanya tetap SMA Taruna Nusantara (SMA TN) saja. Tidak pakai istilah internasional, padahal kiprahnya sudah menyamai go internasional. Jika pemerintah Indonesia mau, maka ada putera-puteri Negara Jepang mau sekolah di SMA TN tersebut.
Misi dan misi SMA TN yang didirikan 1990 tersebut adalah menciptakan calon pimpinan di masa dating, baik di militer maupun sipil.
Untuk itu, sekolah ini menerapkan pola disiplin militer, dimana siswa yang lulus seleksi ditempa dengan pendidikan disiplin kepemimpinan selama tiga bulan.
Semua siswa yang dinyatakan diterima (setelah lulus seleksi tes akademik, kesehatan, smapta pisik) dilatih seperti militer selama tiga bulan dengan uniform seragam yang membanggakan siswanya.
Setelah itu, kurikulum dirakit sendiri dengan penerapan pola pengajaran yang disiplin tinggi. Sebab, SMA tersebut punya motto: Disiplin yang tinggi kunci keberhasilan.
SMA TN dipimpin seorang militer yang job jabatan kepseknya setingkat Brigadir Jenderal (Brigjen) aktif. Jika kita bawakan ke Sumbar, militer yang berpangkat Brigjen adalah Pangdam Bukit Barisan atau Kapolda. Itulah yang menjadi kepala SMA TN. Sedangkan empat wakilnya, tiga diantaranya dari militer setingkat Kolonel, sedangkan wakil bidang humas dari kalangan sipil.
Seleksi guru pamong yang mengajar menerapkan system kontrak dari sejumlah guru PNS maupun non PNS yang setiap tahun selalu dievaluasi oleh pengelola SMA termasuk masukan dari siswa itu sendiri. Guru diberikan tunjangan yang besar dan juga diasramakan di lingkungan sekolah. Jadi tidak siswa saja yang diasramakan, juga semua guru, kepala sekolah dan pegawai juga ada asramanya.
Penulis mengusulkan sebaiknya SMA itu dijadikan SMA unggul Sumatra Barat dengan pola meniru SMA Taruna Nusantara Magelang Jawa Tengah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar